Gubernur BI Sebut Pertumbuhan Ekonomi RI 5,29%, Kalah dari Vietnam tapi Fundamental Lebih Kuat

Jumat, 04 September 2026 | 04:40:31 WIB
Gubernur BI menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,29 persen pada semester I 2026 dalam Sarasehan 100 Ekonom di Jakarta.

LIPUTANEKONOMI.COM — Pernyataan itu disampaikan Destry dalam Sarasehan 100 Ekonom di Jakarta, Kamis, 3 Agustus 2026. Kepada para ekonom, ia mengakui laju pertumbuhan Indonesia belum mampu menyamai Vietnam, tapi perbedaan angka itu tidak lantas menempatkan ekonomi nasional pada posisi yang lebih buruk.

Sepanjang semester I 2026, produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan. Vietnam dalam periode yang sama melesat hingga 8,39%.

Inflasi, Defisit, dan Utang: Andalan BI Bantah Ekonomi RI Tertinggal

Menurut Destry, keunggulan Indonesia justru terlihat dari sisi stabilitas makroekonomi. Ia membandingkan inflasi Vietnam yang mencapai 4,45%, sementara inflasi Indonesia dinilai lebih terkendali.

"Dari sisi inflasi kita lebih manageable. Vietnam boleh (pertumbuhan) ekonomi tinggi, tapi inflasinya 4,45 persen. Kemudian juga, defisit fiskal prudent," ujar Destry dalam kesempatan tersebut.

Dari sisi fiskal, defisit anggaran Indonesia pada akhir 2025 tercatat sekitar 2,8% terhadap PDB. Angka itu lebih rendah daripada Vietnam yang menembus 3,6%. Pemerintah Indonesia pun berkomitmen menjaga defisit di level 2,85% hingga akhir 2026.

Rasio utang Indonesia juga disebut masih relatif rendah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rasio utang pemerintah terhadap PDB pada akhir 2025 berada di kisaran 41,26%. Posisi ini lebih baik dibandingkan Malaysia yang mencapai 63,10%, Filipina 66,00%, maupun Thailand 66,87%.

"Lalu, kita lihat rasio utang, itu juga relatif manageable. Jadi kita masih bergerak di bawah optimum level kita," kata Destry.

BI Ajak Semua Pihak Bersinergi Hadapi Tantangan Ekonomi

Dengan sejumlah indikator tersebut, Destry optimistis ekonomi Indonesia tetap solid dan tidak berada dalam posisi yang lebih buruk dibandingkan negara tetangga. Namun, ia mengingatkan tantangan yang dihadapi ke depan semakin kompleks sehingga kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci.

"Permasalahan yang kita hadapi makin kompleks. Oleh karena itu, mari kita bergandengan tangan, kita bergerak bersama-sama dengan kekuatan masing-masing, kita saling melengkapi menuju satu tujuan yang sama," tuturnya.

Pernyataan ini muncul di tengah perbandingan kinerja Indonesia dan Vietnam yang kerap dikaji ekonom dan investor. Meskipun pertumbuhan Indonesia lebih rendah, kombinasi inflasi yang terjaga, defisit fiskal yang prudent, serta rasio utang yang di bawah negara-negara ASEAN lain dinilai memberi ruang bagi pemerintah dan BI untuk menjaga keberlanjutan ekonomi jangka menengah.

Tags

Terkini