MIND ID dan Kemendikti

MIND ID dan Kemendikti Kembangkan Limbah Timah Jadi Logam Tanah Jarang

MIND ID dan Kemendikti Kembangkan Limbah Timah Jadi Logam Tanah Jarang
MIND ID dan Kemendikti Kembangkan Limbah Timah Jadi Logam Tanah Jarang

JAKARTA - Dalam upaya mempercepat hilirisasi sektor energi, PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) menggandeng Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) untuk melakukan riset inovatif terkait pemanfaatan limbah timah menjadi logam tanah jarang (LTJ).

 Penelitian ini bukan hanya bertujuan untuk mendalami potensi limbah timah, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan industri energi terbarukan yang semakin berkembang di Indonesia. Melalui riset ini, diharapkan Indonesia bisa memaksimalkan potensi mineral kritis yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Fokus Riset Pemanfaatan Limbah Timah

Riset yang dikerjakan bersama ini berfokus pada pengolahan limbah timah yang mengandung monasit. Monasit merupakan sumber utama logam tanah jarang yang sangat berharga dan bernilai tinggi. 

Dalam penjelasannya, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendikti Saintek, Faudzan Adziman, menjelaskan bahwa limbah timah, yang umumnya merupakan produk sampingan dari industri timah, menyimpan kandungan monasit yang bisa diolah lebih lanjut menjadi mineral dengan nilai ekonomi tinggi seperti torium, uranium, dan neodimium.

Monasit merupakan bahan baku penting dalam pembuatan magnet neodymium, yang banyak digunakan dalam teknologi energi terbarukan, seperti motor listrik pada kendaraan listrik (EV). Di samping itu, torium dan uranium, yang juga bisa diperoleh dari monasit, berpotensi besar untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). 

Pemanfaatan kedua logam ini untuk PLTN menjadi semakin relevan, mengingat Indonesia menargetkan penggunaan tenaga nuklir sebesar 11,7% hingga 12,1% dalam bauran energi primer pada tahun 2060, seperti yang tercantum dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN).

MIND ID Dukung Hilirisasi Energi Nasional

Sebagai holding BUMN di sektor pertambangan, MIND ID berkomitmen untuk terus mendorong hilirisasi mineral dan batu bara (minerba) di Indonesia. 

Maroef Sjamsoeddin, Direktur Utama MIND ID, menegaskan bahwa hilirisasi ini akan dijalankan seiring dengan pencapaian target kecukupan dan ketahanan energi yang tercantum dalam PP KEN. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan ketahanan energi yang aman, stabil, dan harga yang terjangkau. 

Selain itu, MIND ID juga berfokus pada pemenuhan kebutuhan energi bagi sektor industri dan masyarakat, dengan memperhatikan transisi energi menuju sumber daya yang lebih ramah lingkungan.

Saat ini, sekitar 39% dari total konsumsi energi MIND ID berasal dari energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Pencapaian ini menunjukkan komitmen MIND ID dalam mendukung transisi energi yang berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil yang semakin terbatas.

Riset Mineral Kritis Jadi Prioritas

Berdasarkan informasi dari Kemendikti Saintek, kementerian ini saat ini tengah menggarap 17 proposal riset mengenai mineral kritis di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan berbagai perguruan tinggi dan perusahaan BUMN sektor pertambangan, termasuk MIND ID dan PT Timah Tbk. (TINS). 

Salah satu topik utama yang diteliti adalah pengembangan mineral kritis yang sangat dibutuhkan dalam sektor energi dan teknologi, seperti lithium, nikel, dan tentunya monasit.

I Ketut Adnyana, Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kemendikti Saintek, mengatakan bahwa riset tersebut bertujuan untuk menyediakan naskah akademik yang akan menjadi dasar dalam proses hilirisasi komoditas mineral kritis ke depannya. Riset ini juga akan membantu dalam memperkuat kebijakan nasional mengenai pengelolaan mineral kritis di Indonesia. 

Dalam waktu dekat, skema sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan BUMN pertambangan akan segera diumumkan, dengan fokus utama pada pendanaan riset yang berkaitan dengan mineral kritis.

Pemanfaatan Torium dan Uranium untuk Pembangkit Nuklir

Dengan menyoroti potensi penggunaan torium dan uranium dari pengolahan limbah timah, riset ini juga membawa perhatian pada pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia. 

Torium, sebagai alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan dibandingkan uranium, memiliki potensi besar untuk digunakan dalam reaktor nuklir. Pemerintah Indonesia sendiri sudah mencanangkan PLTN sebagai bagian dari bauran energi nasional yang akan membantu memenuhi kebutuhan energi di masa depan.

Dengan semakin berkembangnya industri energi terbarukan dan kemajuan teknologi nuklir, pemanfaatan torium dan uranium dari limbah timah diharapkan bisa menjadi bagian penting dari transisi energi di Indonesia. 

Di masa depan, selain mengurangi ketergantungan pada batu bara dan sumber energi fosil lainnya, Indonesia juga dapat mengoptimalkan potensi energi nuklir yang lebih bersih dan efisien.

Potensi Ekonomi dan Lingkungan

Selain manfaat ekonomi yang jelas, seperti potensi peningkatan daya saing industri energi terbarukan dan energi nuklir, riset ini juga memiliki manfaat lingkungan yang signifikan. 

Pemanfaatan limbah timah untuk menghasilkan mineral bernilai tinggi dapat mengurangi dampak lingkungan yang diakibatkan oleh pembuangan limbah industri. Dengan mengolah limbah timah yang sebelumnya dianggap sebagai sampah menjadi bahan yang bernilai tinggi, proses ini memberikan kontribusi positif terhadap keberlanjutan lingkungan dan ekonomi.

Melalui kerja sama antara MIND ID dan Kemendikti Saintek, Indonesia tidak hanya berpotensi mengoptimalkan sumber daya alamnya, tetapi juga membuka peluang untuk menjadi pemain global dalam pasar logam tanah jarang dan energi terbarukan. 

Pemanfaatan limbah timah menjadi logam tanah jarang ini, pada akhirnya, akan berperan penting dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara yang lebih mandiri dalam hal pemenuhan kebutuhan energi masa depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index