JAKARTA - Kinerja investasi sektor energi nasional sepanjang 2025 menunjukkan dinamika yang patut menjadi perhatian pemerintah.
Meski tetap mencatatkan nilai investasi yang besar, perlambatan di subsektor ketenagalistrikan dinilai memberi dampak signifikan terhadap total realisasi investasi sektor Energi dan Sumber Daya Mineral.
Kondisi ini mendorong Kementerian ESDM untuk segera mengambil langkah korektif agar target investasi dan ketahanan energi nasional tetap terjaga.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan, pemerintah tidak tinggal diam melihat tren penurunan tersebut. Percepatan proyek kelistrikan menjadi fokus utama, mengingat sektor ini berperan strategis dalam menopang pertumbuhan industri, kawasan ekonomi baru, serta agenda hilirisasi nasional.
Realisasi Investasi ESDM Masih Didominasi Migas
Kementerian ESDM mencatat realisasi investasi sektor ESDM sepanjang 2025 mencapai USD31,7 miliar. Investasi tersebut bersumber dari berbagai subsektor, mulai dari mineral dan batu bara, minyak dan gas bumi, ketenagalistrikan, hingga energi baru terbarukan dan konservasi energi.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa subsektor migas masih menjadi kontributor terbesar dalam realisasi investasi ESDM. Setelah migas, investasi terbesar berikutnya berasal dari subsektor mineral dan batu bara. Namun demikian, kontribusi ketenagalistrikan dan EBTKE juga tetap memiliki peran penting dalam mendukung bauran energi nasional.
"Total investasi sektor ESDM pada 2025 sebesar USD31,7 miliar, terdiri atas minerba USD6,7 miliar, migas USD18 miliar, listrik USD4,6 miliar, dan EBTKE USD2,4 miliar," ujar Bahlil.
Capaian tersebut mencerminkan bahwa sektor ESDM masih menjadi salah satu motor utama penanaman modal di Indonesia, meskipun menghadapi berbagai tantangan di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
Penurunan Investasi Dipicu Perlambatan Kelistrikan
Bahlil menjelaskan bahwa dibandingkan tahun sebelumnya, realisasi investasi ESDM pada 2025 mengalami koreksi tipis. Pada 2024, investasi sektor ini tercatat sekitar USD32,3 miliar, sehingga terjadi penurunan pada tahun berikutnya.
Menurut Bahlil, koreksi tersebut terutama disebabkan oleh melambatnya investasi di subsektor ketenagalistrikan. Belum optimalnya percepatan pembangunan pembangkit listrik dan infrastruktur pendukung menjadi faktor utama yang menahan laju investasi.
Kondisi ini dinilai perlu segera dibenahi, mengingat ketenagalistrikan memiliki peran vital dalam memastikan ketersediaan energi bagi industri, masyarakat, serta pengembangan kawasan ekonomi baru. Tanpa percepatan proyek, daya tarik investasi di sektor lain juga berpotensi ikut terdampak.
Bahlil menegaskan bahwa pemerintah akan memberikan perhatian khusus pada hambatan-hambatan yang menghambat realisasi proyek kelistrikan, baik dari sisi perizinan, pendanaan, maupun koordinasi lintas sektor.
Pemerintah Dorong Percepatan Proyek PLN
Sebagai langkah konkret, Menteri ESDM menyatakan akan segera memanggil pimpinan PT PLN (Persero). Pemanggilan tersebut bertujuan untuk mendorong percepatan proyek ketenagalistrikan yang telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik.
Ia menilai percepatan pembangunan pembangkit dan infrastruktur pendukung menjadi kunci untuk mengerek kembali realisasi investasi sektor ESDM. Selain itu, langkah ini juga penting untuk memastikan kecukupan pasokan listrik nasional dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
Menurut Bahlil, proyek ketenagalistrikan memiliki efek berganda yang besar. Selain meningkatkan investasi, pembangunan pembangkit dan jaringan listrik akan memperkuat daya saing industri, mempercepat hilirisasi, serta membuka peluang ekonomi baru di berbagai daerah.
Pemerintah, kata dia, akan meningkatkan koordinasi lintas sektor agar proyek-proyek yang telah disetujui dapat segera direalisasikan sesuai rencana. Dengan demikian, hambatan implementasi dapat diminimalkan dan target investasi kembali tercapai.
Kontribusi ESDM Terhadap Tenaga Kerja Nasional
Selain berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, sektor ESDM juga memiliki peran strategis dalam penciptaan lapangan kerja. Sepanjang 2025, sektor ini menyerap ratusan ribu tenaga kerja langsung di berbagai subsektor.
Bahlil mencatat bahwa jumlah tenaga kerja langsung di sektor ESDM pada 2025 mencapai 871.574 orang. Angka tersebut menunjukkan besarnya dampak sektor energi terhadap perekonomian nasional, khususnya dalam penyediaan lapangan kerja.
Pemerintah, lanjut Bahlil, tetap mendorong investasi berteknologi tinggi di sektor ESDM. Namun, di saat yang sama, pemerintah juga memastikan bahwa investasi tersebut memberikan dampak nyata bagi penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia nasional.
Ke depan, Kementerian ESDM optimistis realisasi investasi dapat kembali meningkat seiring dengan percepatan proyek ketenagalistrikan dan penguatan investasi di subsektor migas, mineral dan batu bara, serta energi baru terbarukan.
Dengan langkah-langkah tersebut, sektor ESDM diharapkan tetap menjadi pilar utama pembangunan ekonomi nasional yang berkelanjutan.