Surplus Dagang

Surplus Dagang Indonesia Venezuela Menguat Didorong Ekspor Manufaktur

Surplus Dagang Indonesia Venezuela Menguat Didorong Ekspor Manufaktur
Surplus Dagang Indonesia Venezuela Menguat Didorong Ekspor Manufaktur

JAKARTA - Hubungan perdagangan Indonesia dan Venezuela menunjukkan kinerja yang semakin solid di tengah dinamika global. 

Sepanjang tahun berjalan, neraca dagang kedua negara mencatatkan surplus signifikan bagi Indonesia. Kondisi ini didorong oleh lonjakan ekspor nonmigas yang tumbuh tinggi secara tahunan.

Data mencerminkan bahwa nilai ekspor Indonesia ke Venezuela mengalami peningkatan tajam dalam periode pengamatan. Total ekspor tercatat mencapai US$71,26 juta sepanjang Januari hingga November 2025. Angka tersebut melonjak lebih dari 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan ekspor ini mencerminkan semakin kuatnya daya saing produk nasional di pasar Amerika Latin. Permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia tumbuh konsisten. Hal ini menjadi fondasi utama penguatan surplus perdagangan bilateral.

Impor Menurun Perkuat Surplus Perdagangan

Di sisi lain, arus impor Indonesia dari Venezuela justru menunjukkan tren penurunan. Nilai impor sepanjang sebelas bulan pertama 2025 tercatat menyusut signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Kontraksi impor ini turut memperlebar surplus neraca perdagangan Indonesia.

Sepanjang periode tersebut, impor tercatat sebesar US$14,13 juta. Nilai ini turun lebih dari 30 persen secara tahunan dari posisi tahun sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan perubahan struktur perdagangan yang semakin menguntungkan Indonesia.

Dengan kondisi tersebut, surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai US$57,12 juta. Nilai ini setara dengan Rp956,74 miliar berdasarkan kurs acuan yang berlaku. Surplus tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Produk Manufaktur Jadi Penopang Utama Ekspor

Struktur ekspor Indonesia ke Venezuela didominasi oleh produk manufaktur bernilai tambah. Sabun dan preparat pembersih menjadi kontributor terbesar dalam perdagangan bilateral. Nilai ekspor komoditas ini mencapai US$22,49 juta dalam periode pengamatan.

Selain itu, sektor otomotif mencatatkan kinerja yang sangat menonjol. Ekspor kendaraan dan bagiannya melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Nilainya mencapai US$16,73 juta, meningkat berlipat dari capaian tahun sebelumnya.

Komoditas lain juga turut memperkuat basis ekspor Indonesia. Serat stapel buatan mencatatkan kontribusi yang tidak kecil terhadap total ekspor. Diversifikasi produk ini menunjukkan keberhasilan penetrasi pasar nontradisional.

Struktur Impor Didominasi Komoditas Primer

Dari sisi impor, barang yang masuk ke Indonesia dari Venezuela masih didominasi komoditas hasil bumi. Kakao dan olahannya menjadi komoditas impor terbesar dalam hubungan dagang ini. Nilai impornya tercatat mencapai US$13,13 juta.

Selain kakao, sayuran juga menjadi komoditas impor dengan nilai yang cukup besar. Nilai impor sayuran tercatat sebesar US$6,69 juta. Namun demikian, secara agregat tren impor menunjukkan penurunan yang konsisten.

Penurunan impor ini mempertegas posisi tawar Indonesia dalam perdagangan bilateral. Kondisi tersebut juga mencerminkan berkurangnya ketergantungan terhadap komoditas tertentu. Secara keseluruhan, struktur perdagangan semakin menguntungkan Indonesia.

Risiko Geopolitik Bayangi Prospek Perdagangan

Meski kinerja perdagangan menunjukkan tren positif, risiko eksternal tetap membayangi. Eskalasi geopolitik yang terjadi di kawasan Amerika berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan global. Situasi ini menimbulkan ketidakpastian bagi hubungan dagang Indonesia dan Venezuela.

Eksposur perdagangan langsung kedua negara memang relatif kecil terhadap total ekspor nasional. Namun dampak tidak langsung melalui jalur keuangan global perlu diantisipasi. Volatilitas pasar keuangan berpotensi menekan nilai tukar rupiah.

Selain itu, fluktuasi harga minyak dunia juga menjadi faktor risiko. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia sensitif terhadap kenaikan harga energi global. Jika harga minyak bertahan di atas asumsi anggaran, surplus neraca perdagangan berpotensi tertekan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index