Peneliti BRIN Usulkan Penambahan Telur Pada Menu MBG Ramadhan

Jumat, 06 Maret 2026 | 15:32:35 WIB
Peneliti BRIN Usulkan Penambahan Telur Pada Menu MBG Ramadhan

JAKARTA - Upaya memastikan kecukupan gizi bagi anak-anak tetap menjadi perhatian penting pemerintah, termasuk selama bulan suci Ramadhan. 

Penyesuaian mekanisme penyaluran program makanan bergizi menjadi salah satu langkah agar penerima manfaat tetap mendapatkan asupan nutrisi yang memadai meski menjalani ibadah puasa. 

Dalam konteks tersebut, para peneliti dan ahli gizi turut memberikan masukan agar komposisi makanan yang dibagikan benar-benar seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh.

Salah satu usulan datang dari peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, Fitrah Ernawati, yang menyarankan agar jumlah telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) diperbanyak selama bulan Ramadhan. 

Menurutnya, telur merupakan sumber protein hewani yang terjangkau, mudah dikonsumsi, serta memiliki daya simpan yang cukup baik sehingga cocok untuk menu makanan yang dibagikan kepada siswa.

Usulan tersebut disampaikan Fitrah dalam sebuah diskusi di Jakarta pada Jumat. Ia menilai telur dapat menjadi pilihan praktis sekaligus bergizi untuk melengkapi kebutuhan nutrisi para siswa yang menerima program MBG selama Ramadhan.

“Karena bulan Ramadhan, sebenarnya kan kalau dikasih telur kan awet ya, saya sih lebih prefer ke telur,” kata dia dalam diskusi tersebut.

Kebutuhan Menu Bergizi Selama Ramadhan

Program MBG tetap dilaksanakan selama bulan Ramadhan meskipun terdapat penyesuaian dalam mekanisme distribusi makanan. Di sejumlah daerah dengan mayoritas penduduk Muslim yang menjalankan ibadah puasa, makanan dibagikan dalam bentuk paket kemasan sehat agar dapat dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka puasa.

Penyesuaian ini dilakukan agar siswa tetap memperoleh asupan nutrisi tanpa mengganggu kegiatan ibadah puasa. Namun demikian, komposisi makanan dalam paket tersebut tetap perlu diperhatikan agar memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang.

Fitrah menanggapi laporan mengenai salah satu satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang memberikan menu MBG berupa makanan instan atau produk olahan. Ia menyebutkan terdapat laporan yang menyatakan bahwa paket makanan yang diberikan berisi roti, susu, dan buah naga yang dibagikan setiap tiga hari sekali.

Menurutnya, komposisi tersebut masih perlu dikaji kembali karena dikhawatirkan belum memenuhi kebutuhan nutrisi secara optimal.

Kekhawatiran Kandungan Gula Berlebih

Dalam pandangan Fitrah, menu yang terdiri dari roti dan susu berpotensi mengandung kadar gula yang cukup tinggi. Hal ini menjadi perhatian karena konsumsi gula berlebih tidak selalu sejalan dengan kebutuhan gizi yang seimbang bagi anak-anak.

“Ini hipotesis saja, roti kemudian susu itu saya sering melihat banyak gulanya. Vitamin dan mineralnya sedikit,” ujar dia.

Ia menjelaskan bahwa meskipun buah naga dapat memberikan tambahan vitamin dan mineral, jumlahnya kemungkinan belum cukup jika hanya diberikan satu buah untuk tiga hari.

Agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi, jumlah buah maupun sumber gizi lainnya sebaiknya ditambah. Dengan demikian, siswa yang menerima program MBG tetap memperoleh asupan nutrisi yang seimbang selama menjalani aktivitas belajar di bulan Ramadhan.

Pentingnya Sumber Protein Hewani

Selain memperhatikan kandungan gula, Fitrah juga menyoroti pentingnya protein hewani dalam menu makanan yang dibagikan kepada siswa. Ia menilai bahwa komposisi menu yang dilaporkan tersebut belum mencukupi kebutuhan protein hewani yang mengandung berbagai mineral penting.

Protein hewani memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk membantu pembentukan jaringan tubuh serta meningkatkan daya tahan tubuh.

“Di sini tidak ada protein hewani yang banyak mengandung zinc dan mineral-mineral penting lainnya. Jadi ini masih kurang asupan dari protein hewani,” ucap Fitrah.

Oleh karena itu, ia mengusulkan agar telur dimasukkan dalam jumlah lebih banyak sebagai bagian dari menu MBG selama Ramadhan. Telur dinilai sebagai sumber protein yang relatif murah, mudah didistribusikan, dan dapat diolah dengan berbagai cara.

Dengan adanya tambahan telur, diharapkan menu yang diberikan kepada siswa dapat menjadi lebih seimbang dari sisi kandungan protein, vitamin, dan mineral.

Penyesuaian Program MBG Selama Ramadhan

Pemerintah memastikan program MBG tetap berjalan selama bulan Ramadhan serta masa libur dan cuti bersama. Namun, pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi masyarakat di setiap wilayah.

Di daerah yang mayoritas penduduknya menjalankan ibadah puasa, penyaluran makanan dilakukan dalam bentuk paket makanan kemasan sehat yang dapat dibawa pulang. Sementara itu, sekolah yang berada di wilayah dengan mayoritas non-Muslim tetap menjalankan program secara normal seperti hari biasa.

Sebelumnya, Badan Gizi Nasional atau BGN menyatakan bahwa pelaksanaan MBG selama Ramadhan akan disesuaikan dengan kebutuhan penerima manfaat. Paket makanan yang diberikan dirancang agar dapat dikonsumsi saat waktu berbuka puasa.

Selain itu, BGN juga terus melakukan peningkatan kualitas menu serta kemasan makanan untuk menjamin keamanan pangan dan memastikan makanan yang dibagikan memenuhi standar gizi nasional.

Evaluasi program juga dilakukan secara berkala dengan memperhatikan berbagai aspek, mulai dari kemasan makanan, komposisi gizi, hingga transparansi penggunaan anggaran.

Langkah evaluasi ini bertujuan memastikan bahwa program MBG berjalan sesuai standar kesehatan dan benar-benar memberikan manfaat bagi para penerima.

Dengan adanya masukan dari para peneliti dan ahli gizi, diharapkan kualitas program MBG dapat terus ditingkatkan. Penyesuaian komposisi makanan yang lebih seimbang akan membantu memastikan anak-anak tetap memperoleh asupan gizi yang cukup, bahkan selama menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Terkini