Harga CPO Melejit ke Level Tertinggi Sebulan Didukung Minyak

Jumat, 06 Maret 2026 | 12:02:39 WIB
Harga CPO Melejit ke Level Tertinggi Sebulan Didukung Minyak

JAKARTA - Pergerakan harga komoditas minyak sawit mentah kembali menjadi sorotan pasar global setelah mengalami penguatan signifikan pada perdagangan terbaru. 

Lonjakan harga ini mendorong kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives mencapai level tertinggi dalam satu bulan terakhir. 

Kenaikan tersebut terjadi di tengah dinamika pasar energi dunia serta perubahan pergerakan harga minyak nabati yang saling memengaruhi di pasar internasional.

Kondisi pasar komoditas yang semakin dinamis membuat harga minyak sawit bergerak cukup sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan energi global. 

Dalam beberapa hari terakhir, meningkatnya harga minyak mentah dunia turut memberikan sentimen positif bagi komoditas minyak sawit. Selain itu, potensi gangguan distribusi minyak nabati di sejumlah wilayah juga menjadi faktor yang memicu penguatan harga CPO.

Situasi ini menunjukkan bahwa pasar minyak sawit global masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, mulai dari pergerakan harga energi hingga perubahan pola pasokan dan permintaan komoditas minyak nabati lainnya.

Pergerakan Harga CPO di Bursa Malaysia

Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) melejit pada Kamis. Kenaikan ini mendorong harga CPO mencapai level tertinggi dalam sebulan terakhir, didukung lonjakan harga minyak mentah dunia.

Berdasarkan data BMD pada penutupan Kamis, kontrak berjangka CPO untuk Maret 2026 naik 25 Ringgit Malaysia menjadi 4.096 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO April 2026 melejit 25 Ringgit Malaysia menjadi 4.180 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak berjangka CPO Mei 2026 terkerek 28 Ringgit Malaysia menjadi 4.207 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Juni 2026 melonjak 29 Ringgit Malaysia menjadi 4.218 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak berjangka CPO Juli 2026 naik 29 Ringgit Malaysia menjadi 4.217 Ringgit Malaysia per ton. Sedangkan Kontrak berjangka CPO Agustus 2026 meningkat 28 Ringgit Malaysia menjadi 4.208 Ringgit Malaysia per ton.

Dikutip dari TradingView, sepanjang sesi perdagangan, harga CPO bahkan sempat menyentuh 4.268 ringgit per ton, yang menjadi level tertinggi sejak 30 Januari, setelah sebelumnya sempat melemah pada awal perdagangan.

Perubahan Dinamika Pasar Minyak Nabati

Kepala Riset Komoditas Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani, mengatakan pemulihan harga CPO terjadi setelah perubahan dinamika harga di pasar minyak nabati.

“Kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia berhasil bangkit dari pelemahan awal. Pemulihan ini terjadi karena harga minyak sawit kini berada pada posisi diskon terhadap gasoil, setelah harga gasoil melonjak tajam akibat ketegangan di Timur Tengah,” ujar Bagani.

Perubahan hubungan harga antara minyak sawit dan gasoil ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi minat pasar terhadap komoditas tersebut. Ketika harga energi meningkat, minyak sawit sering kali menjadi alternatif yang menarik, terutama untuk kebutuhan bahan bakar berbasis biodiesel.

Kondisi tersebut turut memengaruhi dinamika perdagangan minyak nabati secara global, karena komoditas seperti minyak sawit, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari saling bersaing dalam pasar yang sama.

Ancaman Gangguan Pengiriman Dukung Harga

Selain faktor energi, kondisi geopolitik juga berperan dalam mendorong kenaikan harga CPO. Ancaman gangguan pengiriman minyak nabati melalui kawasan Timur Tengah turut menopang harga minyak sawit di pasar global.

Menurut Bagani, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan minyak sawit apabila pasokan minyak kedelai dan minyak bunga matahari menjadi lebih terbatas.

Di pasar komoditas lainnya, kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian tercatat relatif stabil, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama naik 0,64%. Adapun harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade menguat 0,47%.

Harga minyak sawit umumnya mengikuti pergerakan minyak nabati pesaingnya, karena seluruh komoditas tersebut bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.

Dengan demikian, setiap perubahan harga pada salah satu komoditas dapat memengaruhi pergerakan harga komoditas lainnya dalam rantai perdagangan minyak nabati internasional.

Penguatan Harga Energi dan Analisis Teknikal

Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah dunia turut memberikan dukungan tambahan bagi pasar CPO. Harga minyak terus menguat setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengganggu pasokan energi global serta mendorong beberapa produsen memangkas produksi.

Kenaikan harga minyak mentah juga membuat minyak sawit semakin menarik sebagai bahan baku biodiesel. Ketika harga energi meningkat, penggunaan minyak sawit sebagai bahan bakar alternatif sering kali meningkat, sehingga memberikan dorongan tambahan terhadap permintaan komoditas tersebut.

Secara teknikal, analis Reuters Wang Tao menilai harga CPO berpotensi menguji level dukungan di 4.138 ringgit per ton. Jika level tersebut ditembus, harga berisiko turun menuju kisaran 4.098–4.121 ringgit per ton.

Analisis tersebut menunjukkan bahwa meskipun harga CPO sedang berada dalam tren penguatan, pergerakan pasar masih tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor teknikal serta dinamika pasar global yang dapat berubah sewaktu-waktu.

Terkini