Industri Pengolahan Jadi Motor Penguatan Ekspor Nonmigas Indonesia Tahun Ini

Selasa, 03 Maret 2026 | 10:28:26 WIB
Industri Pengolahan Jadi Motor Penguatan Ekspor Nonmigas Indonesia Tahun Ini

JAKARTA - Awal tahun 2026 menjadi momentum positif bagi perdagangan luar negeri Indonesia di tengah dinamika global yang masih berlangsung. 

Sektor industri pengolahan tampil sebagai penopang utama ketika beberapa sektor lain mengalami perlambatan. Peran strategisnya terlihat jelas dalam struktur ekspor nonmigas nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor industri pengolahan menunjukkan kinerja yang baik di tengah penurunan ekspor pertanian atau perkebunan dan ekspor pertambangan. 

Pada Januari 2026, ekspor nonmigas Indonesia tumbuh 4,38% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini memperlihatkan daya tahan sektor manufaktur dalam menopang perdagangan.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti memaparkan, industri pengolahan menjadi bantalan kinerja ekspor Januari 2026 yang tumbuh sebesar 8,19%. 

Produk industri yang tumbuhnya sangat tinggi antara lain adalah produk olahan minyak sawit, produk nikel, besi dan baja, semi konduktor, dan kendaraan bermotor. Kinerja tersebut menunjukkan kontribusi luas dari berbagai subsektor manufaktur.

Nilai Ekspor Industri Pengolahan Meningkat Signifikan

Pertumbuhan industri pengolahan juga tercermin dari lonjakan nilai ekspor yang dicapai pada awal tahun. Kenaikan ini menjadi indikator bahwa hilirisasi dan penguatan industri mulai memberikan hasil nyata. Nilai ekspor yang meningkat turut memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

Sementara itu, produk olahan timah mampu tumbuh 191% karena larangan ekspor bijih timah yang berdampak terhadap tumbuhnya ekspor produk olahan timah. Kebijakan tersebut mendorong peningkatan nilai tambah di dalam negeri. Dampaknya terlihat pada lonjakan ekspor produk olahan dibanding bahan mentah.

Amalia mengungkapkan, nilai ekspor industri pengolahan pada Januari 2026 adalah US$18,51 miliar, mengalami kenaikan dari US$ 17,11 miliar pada Januari 2025. Kenaikan ini menegaskan konsistensi sektor manufaktur dalam mendorong pertumbuhan ekspor. Industri pengolahan pun semakin kokoh sebagai tulang punggung ekspor nonmigas.

Tujuan Utama Ekspor dan Kontribusinya

Pasar ekspor utama Indonesia masih didominasi oleh sejumlah negara mitra strategis. Kontribusi ketiga negara terbesar mencerminkan ketergantungan yang cukup tinggi pada pasar utama tersebut. Meski demikian, nilai yang dicapai menunjukkan permintaan yang tetap kuat.

Adapun dari tujuan utama ekspor nonmigas terbesar Indonesia adalah: Tiongkok, Amerika Serikat, dan China dengan kontribusi ketiga negara ini mencapai 43,77 % pada Januari 2026. Tiongkok masih menjadi pasar utama dengan nilai mencapai US$5,27 miliar (24,80 %), diikuti oleh Amerika Serikat sebesar US$2,51 miliar (11,82 %) dan India sebesar US$1,52 miliar (7,15 %). Struktur pasar ini memperlihatkan peran penting kawasan Asia dan Amerika.

“Total Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat pada Januari 2026 adalah sebesar US$2,82 Miliar atau tumbuh 13,60 % dibandingkan dengan Januari tahun sebelumnya (yoy)” tuturnya. Pernyataan tersebut menegaskan adanya peningkatan permintaan dari pasar Amerika Serikat. Pertumbuhan dua digit ini menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha nasional.

Perkembangan Impor dan Dinamika Perdagangan

Di sisi lain, aktivitas impor juga mengalami peningkatan pada periode yang sama. Kenaikan impor menunjukkan adanya kebutuhan bahan baku dan barang modal untuk mendukung produksi. Kondisi ini menggambarkan perputaran ekonomi yang tetap bergerak.

Nilai impor Indonesia pada Januari 2026 tercatat US$21,20 miliar, atau naik 18,21 % dari Januari 2025 (yoy). Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor sebesar US$18,04 miliar, naik 16,71 % dibandingkan Januari 2025. Impor sektor migas juga meningkat hingga 27,52 % (yoy).

Kondisi ini menjadikan nilai impor sektor migas pada Januari 2026 tercatat sebesar US$3,17 miliar. Peningkatan impor terjadi pada bahan baku atau penolong, barang modal, serta barang konsumsi. Perubahan ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan industri domestik.

Impor Bahan Baku dan Negara Asal Utama

Lonjakan impor bahan baku dan barang modal menjadi indikator ekspansi produksi dalam negeri. Barang-barang tersebut umumnya digunakan untuk mendukung proses manufaktur dan investasi. Dengan demikian, kenaikan impor dapat dibaca sebagai sinyal penguatan aktivitas ekonomi.

Nilai impor bahan baku atau penolong sebagai pendorong utama kenaikan impor pada Januari 2026 tercatat US$14,88 miliar, naik 14,67 % dibandingkan Januari 2025. Sementara impor barang modal tercatat sebesar US$4,49 miliar, atau naik 35,23 % dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. Peningkatan ini mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek ekonomi.

BPS turut melaporkan tiga negara utama asal impor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 adalah Tiongkok, Australia, dan Jepang. Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 54,90 %. Tiongkok masih menjadi negara utama dengan nilai impor US$7,89 miliar (43,71 %), diikuti oleh Australia sebesar US$1,07 miliar (5,93 %) dan Jepang sebesar US$0,95 miliar (5,26 %).

Terkini