JAKARTA - Ramadan adalah bulan penuh berkah, di mana umat Muslim berkesempatan untuk memperbanyak amal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Salah satu amalan yang disarankan dalam bulan suci ini adalah memuji Allah SWT. Sebagai umat Islam, kita sering kali terdorong untuk meminta kepada Allah, baik untuk kebutuhan duniawi maupun akhirat.
Namun, menurut Wakil Presiden ke-13 RI Ma'ruf Amin, memuji Allah lebih utama daripada hanya meminta. Bahkan, bagi orang yang memuji Allah dan mengharap keridaan-Nya, pahalanya jauh lebih besar daripada orang yang hanya berdoa untuk mendapatkan sesuatu.
Dalam program Kultum Kemuliaan Ramadan 2026 Ma'ruf Amin menjelaskan bahwa orang yang lebih banyak memuji Allah SWT, tanpa banyak meminta, akan mendapat lebih banyak berkah.
Sebagai contoh, orang yang meminta sesuatu kepada Allah mungkin akan diberikan sesuai dengan permintaannya, sementara orang yang hanya memuji-Nya tidak hanya mendapatkan apa yang diminta, tetapi lebih dari itu. "Jika seseorang memuji Allah, pahalanya akan jauh lebih besar," jelas Ma'ruf Amin.
Orang Arif dan Orang Zahid dalam Memahami Hubungan dengan Allah
Penjelasan Ma'ruf Amin ini mengingatkan kita akan pentingnya niat dan pemahaman dalam beribadah. Ada dua kategori orang yang disebut dalam kajian Islam: orang arif dan orang zahid. Orang arif memiliki tujuan yang sangat sederhana dalam hidupnya, yaitu memuji Allah dengan segenap hati. Baginya, segala yang terjadi di dunia ini hanyalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Ia tidak memiliki keinginan apa pun selain meraih ridha Allah dan mencapai kedekatan dengan-Nya. Orang arif fokus pada pujian-pujian indah terhadap Allah, seperti mengucapkan "Subhanallah," "Alhamdulillah," dan "Allahu Akbar," tanpa mengharapkan sesuatu yang lebih.
Berbeda dengan orang arif, orang zahid lebih cenderung menghindari kenikmatan duniawi yang berlebihan. Meskipun ia menjauhkan diri dari hal-hal yang berlebihan, orang zahid masih tetap memiliki keinginan untuk memperoleh pahala, surga, dan manfaat duniawi melalui doa-doa dan permohonan kepada Allah.
Keinginan mereka mungkin lebih sederhana, namun tetap berfokus pada hal-hal yang berhubungan dengan keuntungan pribadi mereka.
Perbedaan Utama dalam Niat Berdoa
Perbedaan mendasar antara orang arif dan orang zahid terletak pada bagaimana mereka memandang hubungan mereka dengan Allah. Orang arif tidak meminta apapun kepada Allah, bahkan tidak memohon pahala atau surga.
Yang ia harapkan hanya satu hal: keridaan Allah. Ia tidak merasa membutuhkan apa-apa selain dari Allah, dan ia mengandalkan sepenuhnya pada kasih sayang-Nya. Orang arif menjadikan Allah sebagai tujuan utama dan satu-satunya dalam hidupnya, tanpa ada pamrih duniawi yang melibatkan permohonan.
Sebaliknya, orang zahid tetap berdoa untuk mendapatkan pahala dan surga. Meskipun mereka hidup dengan kesederhanaan dan menghindari kenikmatan duniawi, mereka masih meminta sesuatu dari Allah sebagai bentuk harapan dan permohonan.
Ma'ruf Amin menjelaskan dengan jelas bahwa orang arif akan lebih tinggi derajatnya di mata Allah SWT karena mereka tidak mengharapkan apa pun kecuali ridha-Nya.
"Jika seseorang berdoa, 'Ya Allah, saya tidak meminta surga-Mu, tidak takut neraka-Mu, hanya keridaan-Mu yang aku harapkan,' maka inilah ciri orang arif," ujarnya.
Hadis Qudsi dan Keutamaan Memuji Allah
Penjelasan Ma'ruf Amin ini juga merujuk pada sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan dalam tradisi Islam. Hadis ini mengungkapkan bahwa Allah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW bahwa siapa yang sibuk memuji Allah, ketimbang meminta sesuatu kepada-Nya, maka Allah akan memberikan lebih banyak kepada orang tersebut daripada apa yang diberikan kepada orang yang meminta.
Hadis ini menggarisbawahi betapa besar pahala yang didapatkan oleh orang yang memuji Allah secara tulus, tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Allah SWT berfirman dalam hadis qudsi: "Siapa yang sibuk memuji Aku, dibandingkan dengan orang yang meminta kepada Aku, Aku akan memberikan kepadanya lebih dari yang diminta oleh orang yang meminta."
Inilah sebabnya mengapa orang arif bisa mendapatkan derajat yang lebih tinggi di sisi Allah. Mereka tidak hanya meminta, tetapi lebih banyak memuji Allah dalam segala keadaan.
Kisah Nabi Ibrahim AS sebagai Teladan Orang Arif
Sebagai contoh sempurna tentang sifat orang arif, Ma'ruf Amin menyebutkan kisah Nabi Ibrahim AS. Ketika Nabi Ibrahim AS hendak dibakar hidup-hidup oleh Raja Namrud karena menghancurkan berhala-berhala, Malaikat Jibril datang untuk bertanya apakah ia membutuhkan pertolongan.
Namun, Nabi Ibrahim AS menjawab bahwa ia tidak membutuhkan siapa pun selain Allah. Ia tidak mengajukan permintaan apapun, meskipun berada dalam keadaan yang sangat genting. Nabi Ibrahim AS percaya bahwa Allah mengetahui segala sesuatu tentang dirinya, sehingga ia merasa tidak perlu meminta pertolongan apapun.
Akhirnya, tanpa perlu diminta, Allah SWT memerintahkan api untuk menjadi dingin, sehingga Nabi Ibrahim AS selamat dari ancaman tersebut. Kisah ini menjadi teladan bagi kita bahwa seorang yang arif tidak akan meminta apapun selain pertolongan Allah, dan hanya mengandalkan-Nya dalam setiap keadaan. Ia memuji Allah dengan sepenuh hati, tanpa mengharapkan sesuatu selain keridaan-Nya.
Memuji Allah sebagai Kunci Mendekatkan Diri kepada-Nya
Dalam bulan Ramadan ini, kita diberi kesempatan untuk memperbanyak pujian kepada Allah, mengikuti teladan Nabi Ibrahim AS yang tidak meminta apapun selain keridaan-Nya.
Dengan memperbanyak pujian seperti "Subhanallah," "Alhamdulillah," dan "Allahu Akbar," kita dapat mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh pahala yang lebih besar daripada hanya sekedar meminta.
Mengikuti ajaran ini dalam kehidupan sehari-hari akan membawa kita pada derajat yang lebih tinggi di sisi Allah SWT, sekaligus meningkatkan kualitas ibadah kita.
Dalam setiap doa dan pujian yang tulus, kita berharap agar Allah menerima kita sebagai hamba-Nya yang arif, yang selalu memuji dan mengagungkan-Nya tanpa mengharapkan apapun selain keridaan-Nya.