JAKARTA - Pemerintah semakin agresif memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan utama investasi teknologi tinggi di kawasan.
Melalui Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK, strategi khusus disiapkan untuk menarik investasi jumbo di sektor data center, cloud computing, hingga kecerdasan buatan. Pendekatan ini dilakukan dengan mengombinasikan insentif fiskal jangka panjang dan kemudahan regulasi agar Indonesia mampu bersaing dengan negara lain dalam perebutan modal global.
Langkah tersebut tidak sekadar bersifat jangka pendek, melainkan dirancang sebagai fondasi pembangunan ekosistem digital nasional. Pemerintah menyadari bahwa sektor teknologi membutuhkan kepastian kebijakan dan dukungan jangka panjang. Karena itu, KEK ditempatkan sebagai instrumen utama untuk menciptakan iklim investasi yang ramah, kompetitif, dan berkelanjutan bagi industri berbasis teknologi tinggi.
Insentif Fiskal Jadi Daya Tarik Utama Investor
Salah satu senjata utama yang disiapkan pemerintah adalah paket insentif fiskal yang sangat kompetitif. Plt. Kepala Biro Investasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Sekretariat Jenderal Dewan Nasional KEK, Bambang Wijanarko, menjelaskan bahwa insentif tersebut dirancang khusus untuk sektor strategis berteknologi tinggi. Menurutnya, pemerintah menyediakan tax holiday dengan variasi jangka waktu hingga 20 tahun bagi investor yang menanamkan modal di sektor data center, cloud, dan AI.
“Pemerintah memberikan paket insentif mulai dari tax holiday dengan variasi jangka waktu hingga 20 tahun, pembebasan PPN, bea masuk, hingga pengurangan pajak daerah,” ujar Bambang kepada Kontan.co.id, Kamis, 8 Januari 2026. Skema ini diharapkan mampu mengimbangi tingginya kebutuhan modal awal yang menjadi karakter utama industri teknologi.
Insentif fiskal tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah serius menarik investasi berskala besar. Dengan beban pajak yang lebih ringan, investor dapat mengalokasikan dana lebih besar untuk pengembangan teknologi, infrastruktur, serta sumber daya manusia.
Kemudahan Non Fiskal Perkuat Kepastian Usaha
Selain insentif pajak, pemerintah juga menyiapkan berbagai kemudahan non fiskal. Bambang menegaskan bahwa sektor teknologi tidak hanya membutuhkan insentif finansial, tetapi juga kepastian proses bisnis. Oleh karena itu, KEK mengedepankan layanan perizinan satu pintu atau one stop service untuk memangkas waktu dan kompleksitas birokrasi.
Menurutnya, kecepatan dan kepastian perizinan menjadi faktor krusial dalam pengambilan keputusan investasi global. Dengan mekanisme satu pintu, investor tidak perlu lagi berhadapan dengan proses perizinan yang berlapis. Hal ini diharapkan dapat mempercepat realisasi proyek sejak tahap perencanaan hingga operasional.
Pendekatan tersebut sekaligus mencerminkan perubahan paradigma pemerintah yang tidak hanya menawarkan insentif, tetapi juga memperbaiki tata kelola investasi agar lebih efisien dan transparan.
Kepastian Lahan Dan Fleksibilitas Tenaga Kerja
KEK juga menawarkan berbagai fasilitas pendukung yang sangat dibutuhkan investor teknologi. Bambang mengungkapkan bahwa pemerintah memberikan kepastian pengadaan lahan jangka panjang di dalam kawasan. Skema ini penting bagi industri data center dan AI yang memerlukan investasi infrastruktur besar dan bersifat jangka panjang.
Selain itu, KEK memberikan fleksibilitas dalam penggunaan tenaga kerja asing, khususnya untuk posisi strategis yang membutuhkan keahlian khusus. Pemerintah juga membuka peluang kepemilikan asing hingga 100 persen di dalam kawasan KEK. Kebijakan ini dirancang untuk memberikan rasa aman dan kepastian hukum bagi investor global.
Bambang menilai kombinasi antara kepastian hukum, fleksibilitas, dan kecepatan perizinan menjadi kunci utama agar Indonesia mampu bersaing di sektor teknologi tinggi. “Hal ini memberi kepastian dan kecepatan yang sangat dibutuhkan investor teknologi global,” ujarnya.
KEK Nongsa Jadi Etalase Ekosistem Digital
Saat ini, KEK Nongsa Digital Park di Batam menjadi ujung tombak pemerintah dalam menarik investasi industri kreatif digital dan data center. Kawasan ini dikembangkan sebagai ekosistem teknologi terintegrasi dengan infrastruktur siap pakai. Pemerintah fokus memastikan bahwa seluruh fasilitas dasar telah tersedia sebelum investor memulai pembangunan.
Dengan kesiapan infrastruktur tersebut, investor tidak lagi dibebani persoalan teknis di tahap awal. Proses konstruksi dan operasional dapat berjalan lebih cepat dan efisien. KEK Nongsa juga diposisikan sebagai hub digital yang terhubung dengan pasar regional dan global, sehingga memiliki nilai strategis yang tinggi.
Pemerintah terus melakukan pengembangan dan penyempurnaan kawasan ini agar mampu menampung investasi berskala besar. Fokusnya tidak hanya pada fisik kawasan, tetapi juga pada ekosistem pendukung seperti regulasi, konektivitas, dan sumber daya manusia.
Optimisme Hadapi Persaingan Regional
Bambang optimistis bahwa strategi yang diterapkan KEK akan meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat regional. Menurutnya, kombinasi insentif fiskal yang agresif, kemudahan regulasi, dan kesiapan ekosistem menjadi paket lengkap yang sulit ditandingi negara lain. Pemerintah menyadari persaingan investasi teknologi di Asia Tenggara semakin ketat, sehingga pendekatan yang diambil harus lebih progresif.
Ia menilai Indonesia memiliki keunggulan dari sisi pasar domestik yang besar dan potensi pertumbuhan ekonomi digital yang kuat. Dengan dukungan KEK, potensi tersebut diharapkan dapat diterjemahkan menjadi investasi nyata yang berdampak pada penciptaan lapangan kerja dan transfer teknologi.
“Kombinasi insentif, kemudahan regulasi, dan kesiapan ekosistem inilah yang menjadi fokus KEK agar semakin kompetitif dalam menarik investasi high tech ke Indonesia,” pungkas Bambang.
Melalui strategi ini, pemerintah berharap sektor data center dan AI dapat menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi nasional. KEK diposisikan bukan sekadar kawasan insentif, tetapi sebagai katalis pembangunan ekosistem digital yang berkelanjutan dan berdaya saing global.