JAKARTA - Letak geografis sering kali menentukan peran sebuah daerah dalam sistem logistik nasional.
Kota Subulussalam di Aceh menjadi salah satu wilayah yang dinilai memiliki posisi strategis karena berada di jalur penghubung antara Aceh dan Sumatera Utara. Pemerintah pusat melihat potensi tersebut sebagai kekuatan penting untuk memperlancar arus distribusi pangan antardaerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai bahwa optimalisasi peran daerah penghubung seperti Subulussalam tidak bisa ditunda.
Dengan dukungan infrastruktur yang memadai dan kelembagaan ekonomi yang kuat, kota ini diyakini mampu menjadi simpul penting dalam rantai pasok pangan nasional. Karena itu, kunjungan kerja dilakukan untuk memastikan langkah penguatan berjalan sesuai kebutuhan daerah.
Subulussalam Dinilai Strategis Dalam Distribusi Pangan
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mendorong penguatan peran Kota Subulussalam, Aceh, sebagai penghubung rantai pasok pangan nasional. Dorongan tersebut sejalan dengan posisi geografis Subulussalam yang menjadi jalur distribusi logistik antara Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Peran ini dinilai krusial untuk menjaga kelancaran pasokan pangan lintas wilayah.
Hal itu disampaikan Zulhas saat melakukan kunjungan kerja ke Subulussalam, Aceh, Kamis (8/1/2025). Kunjungan tersebut dilakukan bersama Menteri Perdagangan Budi Santoso dan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. Kehadiran sejumlah menteri menunjukkan perhatian pemerintah pusat terhadap penguatan peran strategis daerah perbatasan provinsi.
"Posisi Subulussalam strategis untuk mendukung kelancaran distribusi pangan antardaerah, sehingga penguatan infrastruktur dan kelembagaan ekonominya perlu dipercepat," kata Zulhas berdasarkan keterangannya di Jakarta, Jumat. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya melihat potensi, tetapi juga kebutuhan percepatan realisasi di lapangan.
Dialog Daerah Bahas Ketahanan Dan Risiko Bencana
Dalam kunjungan tersebut, Menko Pangan berdialog dengan forum koordinasi pimpinan daerah, tokoh agama, serta tokoh masyarakat setempat. Dialog ini dimanfaatkan untuk membahas berbagai tantangan daerah, khususnya terkait penguatan ketahanan pangan dan kelancaran distribusi hasil pertanian. Pemerintah ingin memastikan bahwa kebijakan yang diambil sesuai dengan kondisi riil masyarakat.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah risiko bencana banjir yang kerap menghambat aktivitas produksi pertanian dan distribusi pangan. Zulhas menilai bahwa pengendalian risiko bencana harus menjadi bagian dari strategi penguatan rantai pasok. Tanpa penanganan yang tepat, potensi ekonomi daerah sulit berkembang optimal.
Ia menyampaikan perlunya pembangunan sodetan kanal Sungai Lae Soraya sebagai solusi pengendalian banjir. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu mengurangi dampak banjir yang selama ini mengganggu lahan pertanian dan jalur distribusi. Dengan pengendalian banjir yang lebih baik, aktivitas ekonomi masyarakat dapat berjalan lebih stabil.
Infrastruktur Transportasi Jadi Fokus Lanjutan
Pemerintah pusat, lanjut Zulhas, akan menindaklanjuti berbagai usulan penguatan infrastruktur transportasi di Subulussalam dan Aceh Singkil. Penguatan ini bertujuan memperlancar arus barang sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi pangan antardaerah. Infrastruktur transportasi yang memadai dinilai sebagai kunci utama kelancaran rantai pasok.
Jalur distribusi yang baik akan menekan biaya logistik dan mempercepat waktu pengiriman. Hal ini tidak hanya menguntungkan produsen, tetapi juga konsumen di wilayah tujuan. Karena itu, pemerintah memandang pembangunan infrastruktur sebagai investasi jangka panjang bagi ketahanan pangan nasional.
Upaya ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan akses distribusi yang lebih lancar, produk pertanian dan perikanan dari Subulussalam dan sekitarnya dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Dampaknya, kesejahteraan masyarakat pun berpeluang meningkat.
Penguatan Koperasi Perpendek Rantai Distribusi
Selain infrastruktur fisik, Zulhas menekankan pentingnya penguatan koperasi desa dan kelurahan merah putih sebagai bagian dari strategi memperpendek rantai distribusi pangan. Koperasi dinilai mampu menjadi penghubung langsung antara produsen dan pasar, sehingga nilai tambah dapat lebih banyak dinikmati masyarakat desa.
Hingga saat ini, tercatat sebanyak 83.130 koperasi desa dan kelurahan telah terbentuk dan berbadan hukum. Koperasi-koperasi tersebut disiapkan untuk berperan aktif dalam distribusi pangan serta penyerapan hasil produksi masyarakat. Pemerintah berharap koperasi menjadi tulang punggung ekonomi desa.
"Koperasi tersebut juga akan menjadi bagian dari rantai pasok program makan bergizi gratis (MBG), yang menargetkan 82,9 juta penerima manfaat mulai Maret 2026," tutur Zulhas. Program ini diharapkan menciptakan kepastian pasar bagi petani dan pelaku usaha pangan lokal.
Keterlibatan koperasi desa dalam program MBG juga dinilai mampu menjaga kesinambungan pasokan bahan pangan. Selain itu, langkah ini memberikan peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat desa, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari tingkat lokal.
Penghormatan Budaya Dan Pendekatan Terpadu
Dalam rangkaian kunjungan kerja tersebut, Menko Pangan juga melakukan ziarah ke makam Syekh Hamzah Fansury di Kampung Oboh, Kecamatan Runding. Kegiatan ini menjadi simbol penghormatan terhadap tokoh penting dalam sejarah dan kebudayaan Aceh. Pemerintah menilai pendekatan pembangunan juga perlu menghargai nilai budaya setempat.
Ziarah tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga memperhatikan kearifan lokal. Dengan pendekatan yang menyeluruh, pemerintah berharap dukungan masyarakat terhadap program-program strategis dapat semakin kuat.
Pemerintah menegaskan bahwa penguatan ketahanan pangan nasional dilakukan secara terpadu. Upaya tersebut mencakup perbaikan logistik, pengendalian risiko bencana, serta penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat di daerah. Dengan sinergi tersebut, peran Subulussalam diharapkan semakin optimal dalam rantai pasok pangan nasional.