JAKARTA - Melimpahnya hasil panen jagung nasional menjadi sinyal baru bagi arah kebijakan pangan Indonesia.
Di tengah upaya memperkuat kesejahteraan petani dan menegaskan posisi Indonesia sebagai negara agraris yang berdaya saing, pemerintah mulai menggeser fokus dari pemenuhan kebutuhan domestik menuju optimalisasi ekspor. Kondisi surplus produksi jagung yang tercatat sepanjang 2025 membuka ruang strategis bagi Perum Bulog untuk mengambil peran lebih besar di pasar global.
Dorongan tersebut disampaikan Badan Pangan Nasional sebagai respons atas capaian produksi yang dinilai melampaui kebutuhan konsumsi dalam negeri. Dengan fondasi data yang kuat serta dukungan lintas sektor, langkah ekspor dipandang bukan sekadar opsi, melainkan strategi lanjutan dalam menjaga stabilitas harga sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi petani.
Surplus Produksi Jadi Titik Awal Kebijakan Ekspor
Badan Pangan Nasional mencatat Indonesia tengah mengalami surplus produksi jagung. Kondisi ini mendorong pemerintah agar Perum Bulog bersiap melakukan ekspor sebagai langkah strategis untuk mendongkrak perekonomian nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“(Jadi) kita siap-siap ekspor. Bulog, tolong ini bukan pekerjaan kecil,” kata Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa surplus jagung tidak boleh dibiarkan tanpa pengelolaan yang tepat. Pemerintah melihat ekspor sebagai mekanisme untuk menyerap kelebihan produksi, menjaga harga di tingkat petani, serta memperluas pasar komoditas unggulan nasional.
Panen Raya Serentak Perkuat Optimisme Produksi
Arahan ekspor jagung juga disampaikan Amran dalam kegiatan panen raya jagung serentak bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Heriyadi di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (8/1). Kegiatan tersebut turut dihadiri Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani.
Panen raya ini menjadi simbol keberhasilan kolaborasi antara pemerintah, aparat, dan petani dalam meningkatkan produksi pangan strategis. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan menunjukkan bahwa capaian surplus bukan hasil kerja satu pihak, melainkan sinergi lintas institusi.
Momentum panen raya ini juga dimanfaatkan untuk menegaskan kesiapan Indonesia memasuki fase baru pengelolaan jagung, dari sekadar swasembada menuju pemain aktif dalam perdagangan internasional.
Data Produksi Dan Neraca Pangan Nasional
Peningkatan produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen merujuk pada capaian produksi 2025 yang menurut Badan Pusat Statistik berada di angka 16,11 juta ton. Angka ini meningkat 6,44 persen dibandingkan produksi 2024 yang tercatat sebesar 15,14 juta ton.
Dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional, Bapanas menghitung terdapat surplus 463,9 ribu ton karena kebutuhan konsumsi jagung pada 2025 berada di angka 15,65 juta ton. Surplus ini menunjukkan keseimbangan pasokan dan permintaan telah terlampaui.
Capaian surplus 2025 tersebut bahkan melampaui kondisi tahun 2023, ketika produksi jagung berada di 14,77 juta ton dengan kebutuhan konsumsi 14,47 juta ton, sehingga surplus tercatat 307,4 ribu ton.
Kontribusi Polri Dan Lonjakan Surplus
Dalam dua tahun terakhir, surplus produksi dan konsumsi jagung meningkat 23,2 persen, dari 307,4 ribu ton menjadi 463,9 ribu ton. Amran menyebut peningkatan ini tidak lepas dari kontribusi signifikan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Disebutkan bahwa Polri berkontribusi terhadap produksi jagung hingga mencapai 3,5 juta ton atau sekitar 20 persen dari produksi nasional 2025. “Nah, Pak Kapolri luar biasa dan Bapak Presiden apresiasi kemarin. Capaiannya sampai 20 persen,” kata Amran saat berdialog dengan jajaran Polri secara daring.
Ia menjelaskan, kontribusi tersebut berasal dari total lahan sekitar 700 ribu hektare dengan produktivitas rata-rata 5 ton per hektare, sehingga menghasilkan 3,5 juta ton jagung. Angka ini menjadi pilar penting dalam pencapaian swasembada.
Arah Baru Pangan Di Era Kepemimpinan Prabowo
Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto kembali mencatatkan capaian positif dan progresif di sektor pangan. Setelah produksi beras melonjak dengan capaian 34,7 juta ton pada 2025 dan stok awal mencapai 3,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah, kini jagung juga menunjukkan tren peningkatan signifikan.
Berdasarkan data Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025 per Desember 2025, realisasi ekspor jagung hingga November 2025 telah mencapai sekitar 21,3 ribu ton. Pada saat yang sama, pemerintah tidak melakukan impor jagung pakan untuk stok Cadangan Jagung Pemerintah di Perum Bulog.
Kondisi ini memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan ketahanan pangan yang semakin solid, sekaligus memberi ruang bagi kebijakan ekspor yang lebih agresif namun terukur.
Bulog Siap Jalankan Arahan Ekspor
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan kesiapan lembaganya untuk melaksanakan ekspor jagung. Menurut dia, langkah ini merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto dalam kegiatan pengumuman swasembada pangan pada Rabu (7/1).
“Kami menargetkan di tahun 2026 ini memang Bulog akan melaksanakan ekspor, baik beras maupun jagung,” kata Rizal. Ia menambahkan bahwa Bulog akan bersinergi secara maksimal, termasuk dengan Polri, khususnya terkait pelaksanaan ekspor jagung.
Dengan kesiapan tersebut, pemerintah berharap surplus jagung tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi benar-benar memberikan dampak ekonomi nyata. Ekspor diharapkan menjadi instrumen untuk menjaga keberlanjutan produksi, meningkatkan pendapatan petani, serta memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan pangan global.